Pasar saham Amerika Serikat menunjukkan dinamika yang beragam pada perdagangan Kamis (9/7/2026) seiring dengan memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Serangan militer AS di Selat Hormuz yang dibalas dengan eskalasi konflik di Kuwait dan Bahrain telah meningkatkan kekhawatiran investor, sekaligus mengakhiri harapan gencatan senjata yang sempat dinanti.
Situasi ini berdampak langsung pada harga minyak mentah global yang kembali mencatatkan kenaikan sekitar 1% setelah mengalami pergerakan fluktuatif. Chief Investment Officer UBS Global Wealth Management, Mark Haefele, mengingatkan bahwa gejolak pasar diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek akibat ketidakpastian proses perdamaian di kawasan tersebut.
Di tengah tekanan geopolitik, sektor semikonduktor muncul sebagai jangkar stabilitas pasar. ETF iShares Semiconductor mencatatkan kenaikan sebesar 2,4%, yang secara signifikan membantu menjaga performa Nasdaq di tengah pelemahan minat pada saham kecerdasan buatan (AI) belakangan ini. Kontrak berjangka Nasdaq 100 terpantau menguat 0,67%, berbeda dengan Dow Jones yang terkoreksi tipis sebesar 0,13%.
Sentimen negatif turut mewarnai emiten teknologi besar setelah munculnya kabar diversifikasi teknologi oleh pihak korporasi. Saham IBM dan Microsoft masing-masing melemah sebesar 3,8% dan 1,5% setelah Starbucks dilaporkan mulai mencari alternatif teknologi untuk mengurangi ketergantungan pada layanan kedua perusahaan tersebut. Tekanan serupa juga menimpa Meta Platforms, Adobe, dan ServiceNow yang terkoreksi di pasar prapasar.
Selain faktor keamanan, para pelaku pasar kini tengah mencermati kebijakan moneter Federal Reserve. Berdasarkan risalah rapat terbaru, bank sentral AS masih membuka ruang bagi kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum tahun ini berakhir. Investor kini menantikan rilis data klaim pengangguran mingguan untuk mendapatkan gambaran lebih komprehensif mengenai stabilitas ekonomi Amerika Serikat di tengah tekanan global.