Wilayah Laut Sulawesi di sekitar Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, diguncang gempa bumi tektonik pada Kamis, 25 Juni 2026, pukul 11.03.35 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Dalam informasi yang dirilis BMKG, gempa berada di kawasan barat laut Kepulauan Sangihe. Parameter awal hasil analisis menunjukkan kekuatan gempa tercatat M5,1, dengan episenter pada koordinat 5,32 derajat Lintang Utara dan 125,29 derajat Bujur Timur. Titik gempa berada di laut, sekitar 191 kilometer barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, pada kedalaman 51 kilometer.
BMKG menjelaskan, dengan memperhatikan lokasi episenter serta kedalaman hiposenternya, gempa ini termasuk jenis gempa dangkal. Peristiwa tersebut dipicu oleh aktivitas subduksi di wilayah setempat. Analisis mekanisme sumber menunjukkan adanya pergerakan geser naik atau oblique thrust.
Hingga rilis resmi dikeluarkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan maupun dampak lain yang ditimbulkan akibat gempa tersebut. Hasil pemodelan BMKG juga memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami.
BMKG menyebut gempa ini masih berkaitan dengan rangkaian gempa susulan dari gempa besar M7,7 yang sebelumnya mengguncang wilayah Mindanao, Filipina, pada 8 Juni 2026 pukul 06.37.42 WIB. Berdasarkan pemantauan hingga 25 Juni 2026 pukul 11.15 WIB, tercatat 569 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo terbesar M6,7.
Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan. Warga juga diminta mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan, sekaligus memastikan kondisi bangunan di sekitar tetap aman.
BMKG mengingatkan agar masyarakat hanya mengakses informasi resmi melalui kanal terverifikasi, seperti akun media sosial @infoBMKG, laman bmkg.go.id dan inatews.bmkg.go.id, kanal Telegram InaTEWS BMKG, serta aplikasi resmi WRS-BMKG dan InfoBMKG.