Otoritas kesehatan Perancis melaporkan lonjakan angka kematian yang signifikan selama pekan terakhir bulan Juni 2026. Sebanyak 2.025 orang tercatat meninggal dunia akibat fenomena gelombang panas ekstrem yang melanda hampir seluruh wilayah negara tersebut, dengan suhu udara yang menembus angka 40 derajat Celcius selama 11 hari berturut-turut.

Menteri Kesehatan Perancis, Stephanie Rist, menegaskan bahwa angka tersebut merupakan peningkatan sebesar 29,1 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Namun, pihak Badan Kesehatan Masyarakat Perancis memberikan peringatan bahwa jumlah ini kemungkinan besar masih merupakan angka perkiraan terendah, mengingat dampak panas yang meluas hingga ke tingkat rumah tangga dan panti jompo.

Situasi di Paris dilaporkan cukup kritis, di mana lonjakan kematian di kediaman pribadi mencapai 91 persen. Beban sistem kesehatan pun meningkat drastis; rumah sakit dipenuhi oleh pasien yang menderita dehidrasi, gangguan ginjal, hingga serangan jantung. Bahkan, fasilitas pemakaman di ibu kota mulai mengalami kesulitan kapasitas untuk menampung jenazah akibat intensitas insiden yang terjadi.

Kondisi ini memicu reaksi keras dari kalangan politisi, termasuk Partai Hijau yang mengajukan mosi tidak percaya terhadap pemerintahan karena dianggap gagal dalam melakukan langkah mitigasi iklim. Intensitas gelombang panas tahun ini dinilai memiliki karakteristik yang lebih destruktif dibandingkan peristiwa serupa pada tahun 2003, dengan dampak yang tidak hanya melumpuhkan sektor kesehatan, tetapi juga mengganggu infrastruktur publik di negara tetangga seperti Jerman dan Swiss.