Pasar modal Amerika Serikat, Wall Street, mengalami koreksi pada perdagangan hari Senin. Indeks S&P 500 terkoreksi 0,79% ke level 7.515,34, Dow Jones Industrial Average turun 0,26% menjadi 52.498,64, dan Nasdaq 100 merosot tajam sebesar 1,88% ke posisi 29.264,10. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen negatif dari sektor teknologi, terutama perusahaan semikonduktor, serta dampak langsung dari kenaikan harga komoditas energi.

Ketegangan geopolitik yang kembali memuncak antara AS dan Iran menjadi faktor utama pemicu ketidakpastian pasar. Harga minyak mentah WTI melonjak lebih dari 9% ke level tertinggi dalam 3,5 minggu setelah eskalasi serangan militer di Timur Tengah. Eskalasi ini memicu aksi penghindaran risiko (risk-off) di kalangan investor, ditambah dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang sempat menyentuh level tertinggi dalam tujuh pekan di angka 4,61%.

Sentimen pasar semakin terbebani oleh pernyataan agresif Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, yang mengisyaratkan potensi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut jika data inflasi inti tetap berada di level tinggi. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC akhir Juli mendatang berada di angka 41%.

Meski saham sektor semikonduktor dan maskapai penerbangan terpukul akibat kenaikan biaya operasional, sektor perangkat lunak justru menunjukkan kinerja positif. Saham-saham seperti Atlassian dan Salesforce mampu melawan arus dengan kenaikan signifikan. Investor kini tengah menantikan rilis data inflasi Juni AS, yang diprediksi akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.