Kondisi pasar energi global kembali mengalami tekanan setelah harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 2,7%, menempatkan harga di posisi US$ 72,40 per barel. Peningkatan ini dipicu oleh respon pelaku pasar terhadap aksi militer Amerika Serikat yang menargetkan pertahanan udara dan sistem pengawasan pantai Iran, sebuah langkah yang dinilai memperkeruh ketegangan di kawasan tersebut.
Jason Wong, Ahli Strategi Senior BNZ di Wellington, menyatakan bahwa meskipun pasar menunjukkan reaksi negatif terhadap eskalasi ini, perilaku investor belum mengarah pada kepanikan masif. Namun, sentimen ini diperparah dengan data domestik AS yang menunjukkan cadangan minyak strategis berada pada titik terendah sejak tahun 1983, yang menciptakan kerentanan baru terhadap pasokan energi nasional.
Di sisi lain, kebijakan Washington untuk mencabut konsesi penjualan minyak Iran telah memicu kecaman keras dari Teheran. Kementerian Luar Negeri Iran menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kerangka kerja kesepakatan damai yang sebelumnya telah disepakati. Ketegangan ini memberikan tekanan tambahan pada instrumen keuangan lainnya, termasuk penurunan nilai obligasi Treasury 10 tahun akibat proyeksi kenaikan inflasi dan suku bunga.
Dampak dari ketidakpastian geopolitik ini juga merambah ke bursa saham global. Kontrak berjangka Nikkei dan S&P 500 menunjukkan tren pelemahan, yang diperburuk oleh koreksi tajam saham Samsung Electronics. Sementara itu, nilai tukar dolar AS terlihat cukup stabil setelah sempat mengalami penurunan, memberikan ruang bagi mata uang seperti euro dan dolar Australia untuk bertahan di level saat ini.