Di tengah tantangan biaya hidup yang terus merangkak naik, pola pikir pekerja kelas menengah di Indonesia mulai bergeser. Alih-alih hanya mengandalkan gaji bulanan dari pekerjaan utama, banyak profesional kini memilih membangun usaha sampingan sebagai langkah pragmatis untuk menjaga stabilitas finansial keluarga.

Tren ini terlihat jelas dalam geliat bazar UMKM yang digelar di kawasan hunian seperti Boulevard Asana Residence, Cibubur. Salah satu pelaku usaha, Iman Ratra (34), mengungkapkan bahwa motivasi utama bukan lagi sekadar mengejar jenjang karier korporasi, melainkan membangun kemandirian ekonomi. Bagi Iman, mengelola merek parfum sendiri memberikan kepuasan tersendiri karena ia dapat terlepas dari kaku dan birokrasi perusahaan yang sering kali membatasi ruang kreativitas.

Strategi bisnis yang diterapkan para pekerja ini cenderung berbasis komunitas dan efisien. Iman, misalnya, mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut serta menerapkan sistem isi ulang (refill) untuk menjaga loyalitas pelanggan sekaligus mendukung prinsip keberlanjutan lingkungan. Pendekatan serupa dilakukan oleh Delly Ferdian (33), seorang peneliti yang memanfaatkan potensi kuliner lokal untuk merintis bisnis pempek beku. Dengan modal terbatas, Delly berhasil menangkap peluang pasar yang muncul dari lingkungan pertemanan istrinya.

Bagi mereka, membangun usaha kecil bukanlah bentuk ketidaksetiaan terhadap profesi utama. Sebaliknya, bisnis sampingan ini justru menjadi penopang yang fleksibel. Dengan manajemen waktu yang tepat, tanggung jawab profesional di kantor tetap terpenuhi, sementara kebutuhan harian dapat tertutupi dengan penghasilan tambahan yang dihasilkan secara mandiri.