Pengolahan limbah gergaji kayu menjadi media tanam (baglog) jamur tiram kini menjadi peluang usaha yang menjanjikan di Kabupaten Pangandaran. Di Desa Karangpawitan, Kecamatan Padaherang, seorang pembudidaya bernama Iip Nurhidayat (34) sukses menyulap sisa pemotongan kayu menjadi pundi-pundi rupiah melalui budidaya jamur tiram skala rumahan.
Usaha yang digeluti Iip tidak hanya mendatangkan keuntungan finansial dari hasil panen harian, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan. Dengan memanfaatkan serbuk gergaji yang sebelumnya tidak bernilai, ia berhasil menekan penumpukan limbah kayu di wilayahnya sekaligus menciptakan produk pangan yang diminati pasar lokal.
Keberhasilan budidaya ini sangat bergantung pada kualitas bahan baku utama. Iip menjelaskan bahwa serbuk kayu dari pohon albasiah merupakan media terbaik karena mempercepat pertumbuhan jamur tiram secara signifikan dibandingkan jenis kayu lainnya. Bahan tersebut kemudian dicampur dengan bekatul, serbuk jagung, kapur kalsit, dan air dengan takaran presisi demi menjaga nutrisi media tanam.
Proses pembuatan baglog membutuhkan ketelitian ekstra. Campuran media harus didiamkan selama 24 jam sebelum dikemas ke dalam plastik. Setelah dikemas, baglog disterilisasi dengan cara dikukus selama delapan jam pada suhu 100 derajat Celsius guna membunuh bakteri jahat, sebelum akhirnya diberi bibit jamur dalam kondisi steril dan diinkubasi selama 40 hingga 45 hari.
Kendati menjanjikan, tantangan terbesar dalam bisnis ini adalah risiko kegagalan akibat kontaminasi virus atau bakteri selama proses sterilisasi. Iip menekankan bahwa menjaga kebersihan peralatan dan ruang inkubasi merupakan kunci utama agar ratusan baglog yang ia kelola dapat berproduksi secara maksimal hingga masa panen tiba.