Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mengintensifkan langkah pengendalian HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) seiring dengan terungkapnya 123 kasus IMS sepanjang Januari hingga Mei 2026. Data tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit menular seksual di kota perbatasan ini masih memerlukan penanganan serius dan kolaboratif dari berbagai pihak.

Kepala Dinkes Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, mengungkapkan bahwa mayoritas penderita berasal dari kalangan usia produktif. Kelompok usia 25-49 tahun mendominasi dengan 68 kasus, diikuti rentang usia 20-24 tahun sebanyak 35 kasus, serta usia 15-19 tahun yang mencatat 17 kasus. Dari keseluruhan temuan, 71 penderita berjenis kelamin laki-laki dan 52 lainnya perempuan.

Meskipun angka kasus cukup tinggi, capaian layanan pengobatan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dari total 16.089 orang yang mengakses layanan pemeriksaan IMS pada periode tersebut, 122 dari 123 pasien yang terdeteksi positif telah memperoleh pengobatan. Angka ini mencerminkan efektivitas sistem layanan kesehatan dalam memastikan pasien mendapatkan terapi secara tepat waktu.

Namun demikian, Didi tidak menampik bahwa sejumlah kendala masih menghambat upaya penanggulangan. Stigma masyarakat terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) disebut sebagai salah satu penghalang terbesar. Banyak individu dari kelompok berisiko enggan memeriksakan diri karena takut mendapat perlakuan diskriminatif, padahal layanan tes HIV dan pengobatan tersedia secara cuma-cuma di fasilitas kesehatan pemerintah.

"Stigma membuat banyak orang takut memeriksakan diri. Padahal semakin cepat diketahui, semakin besar peluang pasien menjalani hidup sehat dan mencegah penularan kepada orang lain," tegas Didi.

Tantangan lain yang dihadapi meliputi rendahnya kesadaran populasi kunci, terutama kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), untuk menjalani pemeriksaan berkala. Persebaran kelompok berisiko di berbagai titik lokasi turut mempersulit proses skrining. Ditambah lagi, beberapa kawasan masih belum membuka akses bagi tenaga kesehatan untuk melakukan deteksi dini.

Posisi geografis Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia juga menjadi faktor kompleksitas tersendiri. Tingginya mobilitas penduduk lintas negara berpotensi memperluas jalur penularan. Sementara itu, kepatuhan masyarakat dalam penggunaan kondom maupun konsumsi Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) masih terbilang rendah, diperparah dengan keterbatasan ketersediaan obat IMS dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP).

Didi juga menyoroti kebiasaan pasien yang baru datang berobat ketika kondisi penyakit sudah dalam tahap lanjut. Ia mengingatkan bahwa pengobatan antiretroviral (ARV) harus dijalani secara konsisten dan berkelanjutan. "Jika pasien berhenti mengonsumsi obat ARV, risiko resistensi obat akan meningkat dan penanganannya menjadi jauh lebih sulit," jelasnya.

Guna menjawab berbagai persoalan tersebut, Dinkes Batam menempuh strategi komprehensif. Perluasan layanan skrining HIV dan IMS dilakukan di seluruh puskesmas dan rumah sakit. Edukasi kepada kelompok berisiko ditingkatkan secara masif, disertai penguatan promosi penggunaan kondom dan PrEP. Masyarakat luas juga diajak untuk menghentikan praktik diskriminasi terhadap ODHA.

Didi menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian HIV dan IMS tidak semata-mata diukur dari jumlah kasus yang berhasil ditemukan. Indikator sesungguhnya terletak pada meningkatnya kesediaan masyarakat untuk memeriksakan diri, ketepatan waktu pengobatan, serta kepatuhan pasien menjalani terapi hingga tuntas.

"Target kami bukan sekadar menemukan kasus, tetapi memastikan setiap pasien mendapatkan pengobatan dan memutus mata rantai penularan. Dukungan masyarakat sangat dibutuhkan agar target Three Zero — nol infeksi baru, nol kematian akibat AIDS, dan nol stigma terhadap ODHA — dapat tercapai," pungkasnya.