Kasus sengketa sewa lahan di Surabaya yang melibatkan Titik (46) kini memasuki babak baru. Setelah video sidak oleh Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, tersebar luas di media sosial, Titik mengaku keluarganya menjadi sasaran kecaman publik hingga perundungan yang menyasar anak-anaknya.

Titik mengungkapkan bahwa dampak psikologis dari viralitas tersebut cukup berat. Ia menunjukkan bukti-bukti hujatan di media sosial yang ditujukan kepada anggota keluarganya, termasuk anak-anaknya yang masih duduk di bangku sekolah. Menurutnya, serangan verbal yang diterima anak-anaknya telah memengaruhi kondisi mental mereka secara signifikan.

Menanggapi desakan untuk mengosongkan lahan, Titik kini menyatakan kesiapannya untuk pindah. Namun, ia merasa tenggat waktu satu bulan yang diberikan terlalu singkat. Ia juga mengeluhkan bahwa statusnya yang kini viral membuat pemilik rumah kontrakan lain cenderung enggan menerima keluarganya sebagai penyewa.

Lebih lanjut, Titik telah memohon kepada tim kreatif Wakil Wali Kota untuk menghapus konten video terkait dirinya setelah proses kepindahan selesai. Permintaan ini didasari oleh harapan agar kehidupan keluarganya bisa kembali tenang tanpa bayang-bayang hujatan publik yang terus berdatangan.

Terkait akar permasalahan, Titik menjelaskan bahwa lahan tersebut telah dihuni keluarganya secara turun-temurun selama tiga generasi sejak zaman neneknya. Ia mengeklaim sempat memiliki perjanjian lisan dengan pemilik tanah terdahulu perihal izin tinggal. Namun, dinamika kepemilikan lahan berubah drastis setelah Bambang membeli properti tersebut pada tahun 2014 dan melakukan balik nama sertifikat pada 2018, yang berujung pada permintaan pengosongan rumah bagi para penghuni tersisa.