Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China baru saja mengeluarkan peringatan serius terkait keamanan siber yang menyasar alat pemrograman berbasis kecerdasan buatan (AI) asal Amerika Serikat, Claude Code. Otoritas China menyebutkan bahwa terdapat celah keamanan signifikan yang berpotensi memicu pengiriman data sensitif pengguna ke pihak luar tanpa adanya otorisasi resmi.
Temuan ini mencuat di tengah memanasnya rivalitas teknologi antara Beijing dan Washington. Situasi kian kompleks setelah pihak Anthropic, perusahaan pengembang Claude, sempat melayangkan tuduhan terhadap Alibaba yang dianggap berusaha melakukan pencurian kemampuan model AI mereka melalui akses ilegal.
Sebagai langkah mitigasi, pihak berwenang menyarankan para pengguna yang menggunakan versi Claude Code dalam rentang waktu April hingga Juni untuk segera melakukan pembaruan ke versi terbaru atau menghapus perangkat lunak tersebut guna menghindari risiko kebocoran data. Insiden ini menegaskan betapa krusialnya tantangan keamanan siber dalam peta persaingan pengembangan AI global saat ini.
Di sisi lain, dinamika pasar saham menunjukkan reaksi yang kontradiktif. Meskipun dihantam isu penyelidikan hukum oleh firma seperti Pomerantz LLP dan Rosen Law Firm terkait dugaan penipuan sekuritas dan akses ilegal, saham Alibaba sempat mencatatkan lonjakan harga yang signifikan di bursa Hong Kong, mencerminkan volatilitas tinggi di sektor teknologi akibat sentimen geopolitik dan isu integritas perusahaan.