Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Kehutanan (Dishut) tengah menggalakkan penerapan sistem agroforestri dalam budidaya durian di kawasan Kelinjau. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya ganda untuk meminimalkan ancaman erosi lahan sekaligus mendongkrak perekonomian masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.

Plt. Kepala Dinas Kehutanan Kaltim, Rusmadi, memaparkan bahwa metode pertanian terpadu yang menggabungkan tanaman kayu dengan komoditas buah ini terbukti secara ekologis mampu menjaga kesuburan tanah. Tidak hanya itu, pola agroforestri juga diklaim dapat menghemat biaya operasional para petani karena menekan ketergantungan pada pupuk kimia komersial.

Komoditas durian sejatinya telah menjadi produk hortikultura andalan Kalimantan Timur sejak dirintis pada tahun 1992. Kendati memiliki prospek pasar yang menjanjikan, para pekebun lokal selama ini sering dihadapkan pada kendala klasik seperti rendahnya produktivitas, standardisasi mutu buah yang belum konsisten, serta serangan hama penyakit.

Guna mengatasi persoalan tersebut, UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau memberikan pendampingan teknologi secara intensif kepada kelompok tani hutan. Melalui program kemitraan kehutanan ini, masyarakat mendapatkan akses legal untuk mengelola sebagian kawasan hutan negara dengan tetap mematuhi prinsip perlindungan alam.

Selain fokus pada teknis budidaya, pembinaan ini juga membekali para petani dengan pengetahuan akses pasar dan efisiensi manajemen usaha. Melalui sinergi ini, pemerintah daerah optimistis dapat mewujudkan keseimbangan antara kelestarian ekosistem hutan dan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat setempat.