Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Nusa Tenggara Timur (Karantina NTT) memperkuat perannya sebagai benteng pertahanan kesehatan di pintu masuk negara. Melalui Satuan Pelayanan Labuan Bajo, instansi ini terlibat aktif dalam perumusan Dokumen Rencana Kontingensi Kesiapsiagaan dan Respons terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) atau Wabah Penyakit Infeksi Emerging All Hazard di Bandar Udara Internasional Komodo, Manggarai Barat.

Penyusunan panduan taktis ini diinisiasi oleh Loka Kekarantinaan Kesehatan Labuan Bajo dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor. Dokumen ini dirancang sebagai acuan bersama dalam mengidentifikasi faktor risiko, memetakan potensi ancaman kesehatan, serta menyusun mitigasi bencana non-alam secara terpadu di kawasan bandar udara internasional tersebut.

Dalam forum tersebut, perwakilan Karantina NTT, drh. Kanda, memaparkan fungsi vital lembaga dalam mencegah masuk dan tersebarnya hama serta penyakit hewan, ikan, dan tumbuhan. Ia menekankan bahwa proteksi wilayah perbatasan tidak dapat bertumpu pada satu lembaga saja, melainkan membutuhkan sinergi yang solid antar-instansi guna mengoptimalkan sistem kewaspadaan dini.

Sementara itu, Kepala Karantina NTT, Simon Soli, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit menular baru sejak dini. Komitmen bersama ini diharapkan mampu mempercepat respons darurat, meminimalkan dampak kesehatan bagi pekerja bandara dan masyarakat sekitar, sekaligus memperkuat citra Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata internasional yang aman dari ancaman penyakit.