Pasar keuangan domestik tengah bersiap mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan hari ini. Konsensus pasar memperkirakan bank sentral akan menaikkan BI Rate menjadi 6 persen sebagai langkah taktis untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam tekanan inflasi global.
Di tengah ketidakpastian kebijakan moneter tersebut, pasar obligasi dalam negeri menunjukkan ketahanan yang solid. Imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun terpantau kokoh di level 7,29 persen. Kinerja positif ini turut ditopang oleh realisasi defisit APBN Semester I-2026 yang menyusut hingga 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), mencerminkan pengelolaan fiskal yang tetap sehat.
Kondisi pasar yang stabil ini memicu lonjakan minat masyarakat terhadap Surat Berharga Negara (SBN) Ritel, khususnya Obligasi Negara Ritel seri ORI030. Hingga Rabu pagi, kuota pemesanan untuk ORI030 tenor 3 tahun (ORI030-T3) telah terserap hingga 98,7 persen, menyisakan dana hanya sekitar Rp367 miliar dari total target Rp28 triliun. Sementara itu, untuk tenor 6 tahun (ORI030-T6), kuota yang tersedia masih berkisar di angka Rp2,3 triliun dari pagu Rp7 triliun.
Daya tarik ORI030 didorong oleh penawaran kupon tetap (fixed rate) masing-masing sebesar 6,9 persen per tahun untuk tenor 3 tahun dan 7,0 persen untuk tenor 6 tahun. Selain itu, instrumen ini menawarkan insentif pajak final yang lebih rendah, yakni hanya 10 persen, dibandingkan dengan pajak bunga deposito perbankan yang mencapai 20 persen.
Tingginya yield obligasi pemerintah saat ini juga diproyeksikan menjadi katalis positif bagi kinerja reksa dana pendapatan tetap. Bagi investor yang mencari fleksibilitas alokasi aset di tengah fluktuasi pasar saham, reksa dana campuran menjadi opsi yang patut dipertimbangkan. Selain itu, rencana pemerintah merilis Panda Bond senilai US$1 miliar membuka peluang diversifikasi pada reksa dana obligasi berbasis dolar AS.
Di sisi lain, komoditas emas terus menunjukkan taringnya sebagai aset pelindung nilai (safe haven). Didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, harga emas spot melonjak melampaui level US$4.132 per troy ounce. Emas tetap direkomendasikan sebagai instrumen diversifikasi utama untuk menjaga ketahanan portofolio investasi dari gejolak pasar global.