Polusi suara di lingkungan perkotaan dan jalan raya yang padat bukan sekadar mengganggu kenyamanan indra pendengaran. Paparan kebisingan secara terus-menerus kini diidentifikasi sebagai salah satu faktor pemicu stres kronis yang berkontribusi langsung pada percepatan penuaan otak hingga gangguan kesehatan jantung.

Dokter spesialis saraf, dr. David Perlmutter, menjelaskan bahwa beraktivitas atau tinggal di kawasan bising memaksa tubuh berada dalam mode waspada secara konstan. Kondisi ini meningkatkan produksi hormon kortisol atau hormon stres, serta memicu peradangan pada sel mikroglia, yakni komponen pertahanan utama di otak yang bertugas memperbaiki jaringan saraf.

Jika sel mikroglia mengalami peradangan kronis akibat paparan suara keras—seperti klakson kendaraan atau mesin pesawat—kemampuannya dalam melindungi fungsi otak akan menurun drastis. Akibatnya, kerentanan seseorang terhadap penyakit neurodegeneratif seperti demensia akan meningkat seiring berjalannya waktu.

Selain memicu stres, kebisingan tingkat sedang yang terjadi berulang kali juga berpotensi merusak sel-sel rambut mikroskopis di telinga bagian dalam. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gangguan pendengaran akibat polusi suara ini memaksa otak bekerja lebih keras untuk memproses informasi, yang pada akhirnya mempercepat penurunan kemampuan berpikir dan mengingat.