Aktivitas bisnis di Australia menunjukkan sinyal pemulihan moderat sepanjang Juli 2026. Kendati demikian, tingkat kepercayaan para pelaku usaha di Negeri Kanguru tersebut dilaporkan masih tertahan pada level rendah. Kondisi ini dipicu oleh tingginya tekanan biaya operasional serta ketidakpastian ekonomi global yang diperparah oleh eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.

Berdasarkan laporan survei bulanan dari National Australia Bank (NAB) yang dirilis pada Selasa (11/8/2026), indeks kondisi bisnis domestik merangkak naik satu poin menjadi +4 pada Juli. Walaupun mencatatkan perbaikan, pencapaian tersebut nyatanya masih berada di bawah garis rata-rata jangka panjang yang sebesar +7. Di sisi lain, indeks kepercayaan bisnis stagnan di posisi -6, jauh merosot dibandingkan pencapaian awal tahun sebelum konflik geopolitik Timur Tengah memanas.

Pihak NAB menjelaskan bahwa meskipun kecemasan pasar mulai mereda pasca-puncak krisis geopolitik, bayang-bayang ketidakpastian global masih menjadi beban utama bagi optimisme pelaku usaha. Para pengusaha kini dihadapkan pada dilema peningkatan biaya produksi yang tidak sebanding dengan proyeksi permintaan pasar ke depan, sehingga berpotensi menggerus margin keuntungan perusahaan secara signifikan.

Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah turut menjadi faktor krusial yang menekan kinerja industri. Sektor transportasi dan utilitas tercatat menjadi kontributor terbesar dalam kenaikan biaya pembelian bahan baku serta penyesuaian harga jual produk pada bulan lalu. Gejolak harga energi ini dikhawatirkan dapat memicu lonjakan inflasi lebih lanjut.

Meski dihadapkan pada tantangan eksternal, beberapa indikator internal memperlihatkan performa positif. Penyerapan tenaga kerja dan profitabilitas perusahaan mengalami peningkatan, sementara sektor penjualan terpantau stabil. Selain itu, tingkat utilisasi kapasitas melonjak hingga mencapai 83 persen, yang dipimpin oleh akselerasi sektor keuangan, jasa bisnis, properti, serta perdagangan grosir.

Perkembangan ekonomi ini menjadi fokus utama pasar menjelang rapat kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA). Bank sentral tersebut diproyeksikan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,35 persen. Namun, RBA tetap membuka peluang pengetatan moneter lebih lanjut apabila laju inflasi domestik tidak segera melandai sesuai target yang ditetapkan.