Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kian gencar memperluas jaringan perpipaan air bersih melalui PAM Jaya. Langkah ini diambil bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, melainkan sebagai strategi krusial dalam menekan eksploitasi air tanah yang selama ini memicu penurunan muka tanah di ibu kota.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa akses terhadap air bersih merupakan hak dasar yang harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat secara merata. Dalam acara Jakarta Water Hero 2026, ia menyatakan keyakinannya bahwa target 100 persen cakupan layanan pada 2029 dapat terealisasi, mengingat saat ini jangkauan telah menyentuh angka 82 persen atau melayani sekitar 8,9 juta jiwa.
Keberhasilan PAM Jaya dalam menyambungkan lebih dari 72.000 pipa baru sepanjang tahun 2025 menjadi modal utama bagi manajemen untuk terus tancap gas. Pramono menekankan pentingnya tata kelola perusahaan yang profesional dan bebas dari intervensi pihak luar sebagai kunci utama agar pembangunan infrastruktur dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini mengelola jaringan sepanjang 13.200 kilometer dan berkomitmen menambah lebih dari 2.000 kilometer jaringan baru. Berbagai inovasi, termasuk penguatan infrastruktur pengolahan air dan kerja sama dengan sektor swasta, terus dijalankan guna memenuhi target yang telah ditetapkan Pemprov DKI.
Di sisi lain, kebijakan ini memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat. Melalui program Kartu Air Sehat, warga berpenghasilan rendah mendapatkan tarif khusus yang terjangkau, yakni Rp1.000 per meter kubik untuk kategori sangat sederhana. Dampak positif ini telah dirasakan langsung oleh warga, seperti Darkat dan Siti Nur dari kawasan Condet, yang mengaku pengeluaran bulanan mereka berkurang signifikan setelah beralih dari air sumur ke air perpipaan yang lebih jernih dan berkualitas.