Observatorium Chilbolton di Inggris kini mengintensifkan pengawasan terhadap ribuan objek asing dan sampah antariksa yang mengorbit Bumi. Langkah ini diambil guna meminimalkan risiko tabrakan yang dapat merusak satelit aktif serta mengancam keselamatan infrastruktur bumi. Dengan menggunakan sistem radar raksasa, para ilmuwan memindai luar angkasa secara berkala demi mendeteksi pergerakan puing-puing roket dan satelit mati yang tidak lagi berfungsi.
Urgensi pemantauan ini meningkat menyusul catatan Badan Antariksa Eropa (ESA) yang menunjukkan keberadaan lebih dari 46.000 objek sampah antariksa dengan estimasi bobot kumulatif mencapai 17.000 ton. Kekhawatiran global terhadap Sindrom Kessler—sebuah skenario berantai di mana tabrakan antar-puing menciptakan miliaran serpihan baru—kian nyata setelah insiden tabrakan sisa roket SpaceX di Bulan beberapa waktu lalu.
Pemerintah Inggris merespons ancaman ini dengan mengucurkan dana investasi sebesar 85 juta poundsterling untuk memperkuat program pengawasan. Melalui Pusat Operasi Antariksa Nasional Inggris, sekitar 3.000 peringatan bahaya tabrakan diterbitkan setiap bulannya. Kendati demikian, tantangan pemantauan kian berat seiring dengan agresifnya perusahaan swasta global dalam meluncurkan ribuan satelit baru ke orbit.
Selain mengawasi sampah buatan manusia, tim peneliti Chilbolton juga memperkokoh pertahanan planet dari ancaman benda langit alami. Bekerja sama dengan NASA dan tergabung dalam Jaringan Peringatan Asteroid Internasional, mereka aktif memetakan lintasan komet serta asteroid. Fokus terdekat mereka saat ini adalah mempersiapkan misi ESA pada tahun 2029 untuk meneliti pergerakan asteroid Apophis yang diprediksi akan melintas dekat dengan Bumi.