Dinas Kesehatan Kota Samarinda membunyikan alarm kewaspadaan seiring meningkatnya fatalitas akibat penyakit menular di wilayah tersebut. Hingga Juli 2026, akumulasi korban jiwa akibat Tuberkulosis (TB) dan HIV/AIDS di Kota Tepian telah mencapai 63 orang. Angka kematian yang cukup tinggi ini ditengarai akibat masih rendahnya kesadaran serta partisipasi masyarakat dalam melakukan deteksi dini atau skrining kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, dr. Ismed Kusasih, mengungkapkan bahwa temuan kasus TB baru mencapai 1.826 pasien atau sekitar 31 persen dari target sasaran sebanyak 5.855 orang. Dari jumlah tersebut, 27 pasien dilaporkan meninggal dunia, di mana sebagian di antaranya mengalami komplikasi serius dengan penyakit penyerta seperti diabetes melitus hingga gagal ginjal.
Merujuk pada data nasional, Indonesia kini menempati peringkat kedua global dalam estimasi kasus TB tertinggi di dunia. dr. Ismed menjelaskan bahwa posisi ini sangat dipengaruhi oleh rendahnya angka penjaringan dini secara nasional yang masih berada di bawah angka 70 persen. Oleh sebab itu, pihaknya terus menggalakkan program skrining massal gratis, termasuk di lingkungan rentan seperti Rumah Tahanan Negara Kelas 1 Samarinda.
Tak kalah mengkhawatirkan, penularan virus HIV juga menunjukkan tren yang perlu diantisipasi secara serius. Sepanjang tahun ini, Dinkes Samarinda telah melakukan skrining terhadap 25.965 warga dari target 43.189 orang. Hasilnya, 258 orang dinyatakan positif HIV dengan 213 di antaranya telah mengakses terapi obat, sementara 63 orang terdeteksi telah memasuki fase AIDS. Sebanyak 36 pasien tercatat meninggal dunia akibat infeksi ini dalam kurun waktu tujuh bulan pertama di tahun 2026.
Ada korelasi erat yang berbahaya antara kedua penyakit ini, di mana sekitar 7 hingga 9 persen penderita HIV juga terinfeksi TB akibat melemahnya sistem imun tubuh atau koinfeksi. Pemerintah Kota Samarinda menjamin bahwa seluruh biaya pemeriksaan dan penyediaan obat-obatan disubsidi penuh oleh pemerintah pusat. Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala klinis khas seperti batuk kronis yang tak kunjung sembuh serta penurunan berat badan secara drastis.