Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax masih terpantau stabil di angka Rp 16.250 per liter selama satu bulan terakhir. Meski fluktuasi harga minyak mentah dunia kerap terjadi, Pertamina memilih untuk tidak melakukan penyesuaian harga dalam waktu dekat.
Ekonom dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi 'price smoothing' atau penghalusan harga. Menurut Yayan, kebijakan ini merupakan upaya perusahaan pelat merah tersebut untuk memulihkan margin keuntungan setelah sempat menahan harga saat kondisi pasar global sedang tidak menentu.
"Pertamina sebelumnya sempat menyerap kerugian ketika harga minyak dunia melambung tinggi. Kini, saat harga minyak dunia mulai melandai, perusahaan lebih memilih untuk menahan harga guna menutup defisit margin yang terjadi sebelumnya," jelas Yayan.
Lebih lanjut, Yayan menyoroti bahwa penentuan harga BBM nonsubsidi tidak hanya bergantung pada harga minyak mentah semata, melainkan juga mengacu pada perilaku korporasi dan formula yang ditetapkan pemerintah. Meski perhitungan dasar formula menunjukkan angka di kisaran Rp 13.700 per liter, pendekatan stabilisasi harga membuat nominal di SPBU tetap bertahan di angka Rp 16.000-an.
Kondisi ini memiliki implikasi ekonomi tersendiri. Yayan mencatat, seandainya harga Pertamax segera diturunkan mengikuti harga pasar, inflasi nasional berpotensi turun sekitar 0,4 poin persentase dalam tiga bulan. Namun, dengan kebijakan saat ini, keuntungan dari penurunan harga minyak dunia lebih difokuskan untuk memperbaiki neraca keuangan Pertamina, sementara beban subsidi pada jenis BBM lain seperti Pertalite dan Solar tetap menjadi prioritas pemerintah.