Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, kembali melakukan manuver pemusnahan massal terhadap armada satelit internet Starlink yang mengorbit Bumi. Berdasarkan laporan terkini kepada Komisi Komunikasi Federal (FCC) Amerika Serikat, sebanyak 260 unit satelit sengaja diarahkan masuk kembali ke atmosfer (re-entry) untuk dibakar dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.

Langkah ini merupakan bagian dari siklus pemeliharaan teknologi SpaceX untuk memastikan konstelasi satelit mereka tetap berada pada standar performa tertinggi. Dengan jaringan yang kini telah menembus angka 10.000 unit di ruang angkasa, perusahaan secara rutin mengganti satelit yang telah mencapai batas usia operasional lima tahun dengan unit yang lebih mutakhir.

Data yang dihimpun menunjukkan bahwa dari 260 satelit yang dideorbitkan antara Desember 2025 hingga Mei 2026, mayoritas merupakan perangkat generasi pertama. Tren pemusnahan ini tercatat mengalami peningkatan dibandingkan periode enam bulan sebelumnya. Selain itu, terdapat 349 satelit lain yang saat ini sudah berstatus non-aktif dan menunggu proses pemusnahan serupa.

Meskipun pihak SpaceX menjamin bahwa proses pembakaran satelit di atmosfer berlangsung sempurna dan tidak menyisakan puing berbahaya bagi populasi di permukaan Bumi, kalangan akademisi justru mengungkapkan keresahan berbeda. Penguapan material satelit saat terbakar di atmosfer disinyalir dapat melepaskan emisi gas yang berisiko merusak lapisan ozon.

Hingga saat ini, catatan astronom Jonathan McDowell menunjukkan akumulasi satelit Starlink yang telah musnah terbakar mencapai 1.344 unit. Kondisi ini memicu desakan dari para ilmuwan agar Pemerintah Amerika Serikat segera melakukan kajian dampak lingkungan yang komprehensif atas aktivitas komersial luar angkasa tersebut.

Di sisi lain, tuntutan evaluasi ini menghadapi tantangan kebijakan, mengingat otoritas AS mempertimbangkan pengecualian bagi proyek konstelasi satelit dari kewajiban analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Kebijakan tersebut disinyalir berkaitan erat dengan ambisi strategis Washington untuk menjaga dominasi dan keunggulan teknologi di kancah ruang angkasa global.