PT PAL Indonesia tengah memimpin transformasi besar dalam industri pertahanan matra laut nasional melalui serangkaian proyek strategis. Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Kaharuddin Djenod, badan usaha milik negara (BUMN) ini berkomitmen mengakselerasi kemandirian teknologi pertahanan, mulai dari pembangunan kapal selam mutakhir, kapal perang permukaan, hingga pemenuhan kontrak ekspor internasional.
Salah satu proyek mercusuar yang sedang digarap adalah kapal selam Scorpene Evolved, bekerja sama dengan Naval Group asal Prancis. Berbeda dengan kelas Nagapasa sebelumnya yang menggunakan propulsi diesel-elektrik konvensional, Scorpene Evolved akan dilengkapi teknologi baterai litium terbaru. Teknologi mutakhir ini menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang membangun dan mengoperasikan varian tersebut. Proses Transfer of Technology (ToT) dilakukan sepenuhnya di dalam negeri dengan mengirimkan puluhan insinyur ke Prancis untuk pelatihan intensif.
Meskipun kontrak awal menargetkan pengiriman unit pertama pada tahun 2032, PT PAL berupaya keras mempercepat linimasa pembangunan atas instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Langkah konkret akselerasi ini dibuktikan dengan pemotongan pelat pertama (first steel cutting) yang dimajukan ke bulan Juli dari jadwal semula pada Oktober. Penyesuaian infrastruktur dan metodologi manufaktur khas Prancis juga terus dioptimalkan di galangan kapal Surabaya.
Selain kapal selam berawak, PT PAL kini telah memasuki tahap produksi massal Kapal Selam Tanpa Awak (KSOT). Berbeda dengan proyek Scorpene, KSOT merupakan karya murni anak bangsa yang mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk sistem kendali operasionalnya. Proyek ini membuktikan kemampuan insinyur domestik dalam menguasai teknologi pertahanan tingkat tinggi secara mandiri tanpa ketergantungan pada pihak asing.
Di sektor kapal permukaan, pembangunan Fregat Merah Putih (FMP) unit pertama ditargetkan meluncur pada Desember 2025 dan siap diserahterimakan pada September 2026. PT PAL juga sukses memangkas ketergantungan komponen impor dengan menggandeng BUMN lain seperti PT Barata Indonesia untuk memproduksi suku cadang krusial secara lebih cepat dan efisien. Langkah ini diharapkan terus berlanjut hingga target pembuatan meriam kaliber besar secara mandiri pada tahun depan.
Kepercayaan global terhadap PT PAL juga semakin kokoh seiring ekspor unit Landing Platform Dock (LPD) pesanan Angkatan Laut Filipina yang berhasil diselesaikan hanya dalam waktu enam bulan. Secara internal, performa finansial perusahaan mencatatkan pemulihan signifikan dengan kembalinya status kolektibilitas ke tingkat normal (kolektibilitas 1) serta peningkatan peringkat investasi, menjadikannya kian menarik bagi para investor strategis.