Sektor swasta Vietnam mencatatkan momentum pertumbuhan yang signifikan menyusul implementasi Resolusi 68. Data Kementerian Keuangan menunjukkan optimisme pasar yang tinggi, dengan proyeksi hampir 297.500 bisnis baru akan berdiri sepanjang tahun 2025, mencerminkan peningkatan sebesar 27,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan modal terdaftar sebesar 77,8% menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan investor domestik mulai pulih dan menguat.

Pencapaian ini tidak hanya berhenti pada angka statistik, melainkan merambah pada lompatan kualitas teknologi. Berbagai grup besar seperti Hoa Phat, Vingroup, hingga FPT kini mulai menguasai teknologi strategis, mulai dari produksi baja rel berkecepatan tinggi, pengembangan infrastruktur transportasi canggih, hingga kemandirian dalam industri semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI). Keberhasilan ini menempatkan perusahaan lokal Vietnam sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global.

Kendati demikian, para ekonom memberikan catatan kritis terkait ketimpangan pertumbuhan. Ekonom Dr. Le Xuan Nghia menyoroti bahwa kemajuan saat ini masih sangat bergantung pada konglomerat besar. Sebaliknya, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta usaha rumah tangga masih terhambat oleh beban regulasi, akses kredit yang terbatas, dan biaya kepatuhan yang tinggi. Fenomena tingginya angka bisnis yang keluar dari pasar di sektor jasa dan ritel menjadi indikator bahwa pelaku usaha kecil memerlukan perhatian kebijakan yang lebih spesifik.

Untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan, pemerintah didesak untuk melakukan reformasi kelembagaan yang lebih komprehensif. Upaya ini mencakup peningkatan kapasitas aparat di tingkat akar rumput agar lebih adaptif terhadap prosedur investasi, serta pelonggaran kebijakan moneter yang lebih merata. Fokus utamanya adalah menciptakan iklim bisnis yang transparan, aman, dan berbiaya rendah agar seluruh lapisan pelaku usaha dapat berkontribusi maksimal terhadap target pertumbuhan ekonomi jangka panjang.